Thursday, 12 February 2015

Kisah anak durhaka

Anak yang durhaka kepada orang tua merupakan dosa yang sangat besar, berikut ini kami sajikan empat kisah anak durhaka kepada orang tua berikut, kisah pertama menceritakan tentang seorang anak durhaka yang tega meninggalkan ibunya sendiri sampai akhirnya meninggal dunia. Kisah kedua merupakan kisah nyata yang terjadi di China tentang seorang anak durhaka yang tidak mengakui ibunya. Kisah ketiga menceritakan bagaimana saat kematian seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Sedangkan kisah keempat menceritakan penderitaan hidup seorang anak durhaka.


1. Anak Durhaka yang Tega Meninggalkan Ibunya

Sebuah kisah anak durhaka kepada orang tua yang sangat memilukan dan mengharukan.

Alkisah, ada serombogan mahasiswa yang sedang KKN di sebuah desa. Suatu hari saat mereka sedang bersantai sambil membawa makanan untuk makan, tiba-tiba mereka dihampiri oleh seorang nenek yang sudah tua. Nenek itu memungut makanan yang tercecer di tanah dan memakannya.

Ketika melihatnya, mereka langsung menghampirinya dan bertanya,”Nenek lapar?” Nenek itu menjawab,”Aku di sini sejak pagi dan belum makan apa-apa. Anakku membawaku kesini sejak Subuh tadi. Dia pergi meninggalkanku dan mengatakan kepadaku bahwa dia akan datang dan mengambilku sebentar lagi.”

Singkat cerita, salah seorang mahasiswa memberi nenek itu makanan dan nenek itu pun makan bersama mereka. Setelah malam makin larut, mahasiswa-mahasiswa tersebut mengemasi barang-barang mereka. Para mahasiswa itu merasa bahwa waktu sudah larut dan cuaca makin dingin. Sementara mereka tidak tega meninggalkan nenek tersebut dalam kondisi seperti itu dimalam hari. Salah satu dari mereka menghampirinya dan bertanya,”Engkau punya nomor telepon anakmu yang bisa kami hubungi agar dia datang menjemputmu?” Nenek itu menjawab,”Oh ya, aku ada nomor teleponnya di kertas.

Tatkala kertas itu dibaca, ternyata tertulis: “Siapa saja yang menemukan wanita ini harap membawanya ke panti jompo.” Para mahasiswa itu tersentak kaget melihat tulisan tersebut. Mereka duduk sesaat untuk merayu nenek itu mau pergi bersama mereka. Mereka berusaha agar nenek itu mau pergi bersama mereka ke tempat yang diinginkannya. Tentu saja nenek itu tidak mau pergi bersama mereka, karena anaknya berjanji padanya akan datang untuk menjemputnya. Nenek itu bersikeras untuk menunggu kedatangan anaknya. Dia mengatakan, “Anakku akan datang menjemputku dan aku akan menunggunya.”

Nenek malang itu tidak tahu bahwa anaknya mengelabuhinya dan membuangnya pada saat dia sangat membutuhkannya.

Para mahasiswa itu pun meninggalkannya dengan harapan bahwa si anak akan datang menjemputnya sesuai dengan janjinya, walaupun mereka berpikir bahwa anak nenek tersebut adalah anak yang durhaka kepada orang tua. Salah seorang mahasiswa dari mereka merasa tidak bisa tidur karena memikirkan nasib nenek malang itu. Mahasiswa itu pun bangun, berganti baju dan mengendarai mobilnya menuju pantai. Setibanya disana dia melihat ambulans, polisi dan orang-orang berkerumun. Dia masuk di sela-sela mereka dan melihat nenek itu sudah meninggal dunia. Ketika dia bertanya kepada mereka tentang sebab kematiannya, mereka menjawab.”Tekanan darahnya naik dan ia meninggal dunia.” Dia meninggal dunia karena kecemasannya terhadap anaknya; jangan-jangan anaknya mengalami sesuatu sehingga tidak datang menjemputnya. Dia meninggal dunia saat menunggu kedatangan anaknya yang berjanji akan menjemputnya. Dia meninggal dunia saat jauh dari keluarganya.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya dan memasukkannya kedalam surga-Nya melalu pintu yang paling lebar. Amin.
Saya berharap agar semua orang yang membaca kisah ini mau menyebarluaskannya supaya menjadi peringatan bagi setiap anak yang durhaka kepada orang tuanya.


2. Anak Durhaka yang Tidak Mau Mengakui Ibunya

Anak durhaka tidak hanya Malin Kundang seperti yang kita kenal. Di China, seorang anak durhaka menolak untuk menemui ibunya karena anak durhaka itu menganggap ibunya kampungan.

Ding Liang, seorang ibu berusia 63 tahun tampak menangis tersedu-sedu di pinggiran jalan Kota Hangzhou, China. Hsin Pai, pria berusia 53 tahun yang melihat ibu itu merasa tergugah dan menanyakan apa yang terjadi.

Ibu tua itu akhirnya mencurahkan kesedihannya kepada Hsin Pai. Ding Liang mengaku berasal dari sebuah desa di pinggiran Kota Yuyao, Provinsi Hangzhou. Sudah lima jam dia menghabiskan waktu di perjalanan dari desanya ke kota tempat anaknya tinggal. Menurut Ding Liang, putranya pindah ke kota untuk kuliah beberapa tahun lalu, Setelah menyelesaikan kuliahnya, dia mendapatkan pekerjaan yang bagus di sebuah dealer mobil.

Saat sudah sukses, putra Ding menikah dengan seorang perempuan dan Ding pun berniat menghadiri pernikahan putranya. Tapi saat berada di pesta pernikahan, putra Ding merasa malu dengan kedatangan ibunya karena datang dengan dandanan kampungan. Putranya merasa marah dan malu untuk mengakui bahwa Ding adalah ibu kandung yang melahirkannya. Setelah pernikahan itu, putranya mulai mengabaikan Ding dan seluruh keluarganya di desa.

Ding Liang sudah pasrah dengan kenyataan itu, ibu itu sadar bahwa anaknya punya kehidupannya sendiri saat ini. Suatu jari anaknya menelpon Ling untuk mengabarkan bahwa dia sudah punya bayi. Mendengar hberita menggembirakan itu, Ding ingin mengunjunginya dan membawakan cucunya hadiah.

Namun ketika Ding mengabarkan akan datang menengok cucunya, putranya melarang. Dia bilang terlalu malu karena saya terlalu buruk. Suami saya juga melarang, tetapi saya ingin datang karena menantu saya melahirkan dan ingin memberikan hadiah kepada cucuku. Saat sang ibu ingin menemui anaknya, Ding bangun pukul 04.00 pagi dan berpakaian yang sudah dibelinya khusus untuk itu. Dia membungkus pakaian dan hadiahnya dalam dua buah kantung yang dibawa dengan sebuah tongkat. Akhirnya Ding tiba di kota setelah menempuh perjalanan dengan bus selama lima jam, sayangnya Ding tidak memiliki alamat tinggal anaknya. Namun ketika menelpon sang anak, dia itu tidak mau mengangkat.

Sampai menjelang pukul 10.00, Ding tanpa putus asa berputar-putar dan mencari. Dua orang pekerja bangunan sampai mengira dirinya adalah seorang pemulung. Ketika dijelaskan bahwa dia sedang mencari putranya, mereka mencoba memberikan bantuan tetapi semuanya tidak bisa banyak membantu.

Di saat itulah Hsin yang merasa kasihan dengan Ding memberikan bantuan. Dirinya memutuskan untuk membawa ceritanya ke media di China. Tidak butuh waktu lama kisah Ding menarik perhatian begitu banyak pihak. Ding bercerita kepada wartawan, bahwa dia dan suaminya adalah orang yang miskin, tapi  mereka berupaya keras agar sang putra bisa kuliah.

Ding bekerja sebagai pembantu rumah tangga sementara suaminya bekerja sebagai buruh bangunan. Pasangan suami istri itu pun sampai harus meminjam banyak uang demi biaya kuliah anaknya. Ding bahkan meminjam uang untuk keperluan biaya pernikahan putranya. Bahkan sempat memberikan kalung emasnya kepada sang menantu, ketika mengetahui anak mantunya menghadapi kesulitan keuangan.

Namun pada akhirnya, Ding pun menyerah. Dia kembali ke desanya membawa kembali hadiah yang tadinya untuk sang cucu. Saking sayangnya dengan sang anak durhaka tersebut, Ding bahkan tidak mau menyebarkan foto dan namanya untuk melindunginnya agar tidak dicerca oleh orang lain.

No comments:

Post a Comment